Indonesia merupakannegara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat dengan luas wilayah yang berbeda di setiap provinsi serta memiliki latar kebudayaan dan tradisi yang beragam. Keberagamaniniumumnyamenimbulkan kondisi saling memahami dan menghargai (harmony in diversity), namuntak jarang pula menjadipemicu berbagai permasalahan sosial akibat kurangnyatoleransidalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu yang menjadi perhatian serius dalam permasalahan ini adalah bagaimana upayadalam mewujudkan perdamaian di tengah diferensiasi prinsip, budaya, dan tradisi di kalangan masyarakat Indonesia. Hari Perdamaian Internasional diperingati tiap 21 September. Namun, bagaimanakah dengan kondisi perdamaian di Indonesia  saat ini?

Masih hangat di benak kita berbagaiinsidenpelanggaran HAM yang terjadi pada 1 Januari 1961 hingga 26 November 2015. Tercatat13 kasuspadaranah kesetaraan dan non-diskriminasi, kebebasan beragama dan berkeyakinan 108 kasus, hak atas hidup 231 kasus dan perbudakan 5 kasus. (Zuhri, 2009 dalam Budimansyah, 2016)[1]. Pada tahun 2016, teror bom di tempat ibadah Medan pada bulan Agustusdantahun 2018 peristiwaledakanbom yang tejadi di depan tiga tempat ibadah di Kota Surabaya[2]. Melihat kasus-kasus tersebut, dapatdikatakan bahwa perdamaian belum sepenuhnya terwujud dalam benak masyarakat Indonesia yang bermanifestasi pada perilaku anti-damai, sehingga menimbulkan berbagai perpecahan dan konflik.

Generasi unggul menurut Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo merupakan generasi yang cerdas, mempunyai jati diri, kemandirian, ketangguhan dan cinta kasih sayang yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan kemanusiaan[3]. Golden generation 2045 sebagai target, tepat Indonesia berusia 100 tahun, negara ini akan memiliki generasi-generasi yang bersifat transtruktural namun tetap harus dapat hidup dan berkembang dalam jati diri bangsa dan budaya Indonesia sebagai sebuh bangsa yang bermartabat. Menurut penulis pribadi, generasi unggul adalah generasi yang mampu bersaing dalam segi tatanan global, baik dalam segi pengetahuan dan keterampilan, serta yang terpenting adalah mampu menanamkan, mengedepankan, dan mempraktikan nilai-nilai perdamaian, sehinga mampu menjadi panutan bagi orang lain untuk bersikap serupa dalam hal perdamaian. Efek yang dapat diharapkan yakni lambat laun sikap perdamaian dan anti kekerasan dapat mendarah daging dalam hati dan perilaku tiap masyarakat Indonesia.

Perdamaian merupakan hal pokokkarena dengan kedamaian akan tercipta lingkungan yang sehat, nyaman, dan harmonis dalam tiap interaksinya. Kedamaian ialah hak setiap individu. Nilai-nilai yang harus dilaksanakan yakni: larangan melakukan kejahatan, adanya persamaan derajat, menjunjung tinggi keadilan, memberikan kebebasan yang benar, menyeru hidup rukun dan tolong-menolong, mengajarkan toleransi, dan meningkatkan solidaritas sosial[4].

Untuk menanamkan dan mewujudkan nilai-nilai perdamaian, beberapa yang harus dilakukan adalah:1) Afirmasi (affirmation) yaitu pengakuan dan penghargaan yang terbuka atas berbagai kekuatan dan potensi yang ada pada setiap pribadi atau kelompok. 2) Komunikasi (communication) yaitu kemampuan untuk tidak hanya menyampaikan ide kepada orang lain secara lisan maupun tulisan tetapi termasuk juga keterampilan untuk mendengarkan. 3) Kerjasama (cooperation) yaitu bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama, berbagai wawasan dan temuan serta melangkah bersama untuk mengurangi iklim kompetisi dan hirarki dalam hubungan sosial. 4) Resolusi konflik (conflict resolution) yakni pemecahan atas sengketa di masyarakat melalui jalan damai bukan kekerasan[5].

Peace education ialah proses pendidikan yang mengupayakan pemberdayaan masyarakat agar mampu mengatasi konflik atau masalahnya sendiri dengan cara kreatif dan bukan dengan cara kekerasan[6]. Peace education dalam UNESCO meliputi pelatihan keterampilan dan informasi yang mengarah pada upaya menumbuhkan budaya perdamaian berdasarkan prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia. Pendidikan ini juga mengajarkan keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk meredakan dan mengenali potensi konflik, untuk membangun budaya perdamaian non kekerasan[7].Pendidikan perdamaian dalam pidato Tony Blair di Dewan Keamanan PBB November 2013 dikatakan sangatlah penting dalam menjaga perdamaian dunia karena education is a security issue[8].

Pendidikan yang mengusung kedamaian dikatakan oleh Ban Ki Moon bertujuan untuk mengikis dan meminimalisir gerakan ekstrimisme bagi kalangan yang tidak cukup memiliki pendidikan tentang toleransi dan saling menghormati. Tugas utama pendidikan ialah membantu mengembangkan humanitas dalam mewujudkan kepribadian yang utama dan mulia berdasarkan karakter ideal manusia yang diharapkan, mengingat manusia mempunyai potensi dalam tingkatan kodrat human dignity (martabat manusia) yang dikaruniai kesadaran diri (self awareness) sebagai media untuk merealisasikan potensi diri, dan dapat berkembang secara baik menjadi self realization (realisasi diri) yang akan mengarahkan pada pembentukan dan petunjukan jati diri yang ideal, sehingga dapat memberikan manfaat dan fungsi bagi kehidupan, baik secara individu, kelompok, dan sosial kemasyarakatan[9].

Masyarakat di seluruh tanah air termasuk di Provinsi Sulawesi Selatan, telah mempunyai sejumlah kearifan lokal yang menjadi penopang kerukunan dan perdamaian antarmasyarakat. Budaya dan kearifan lokal pada dasarnya telah berfungsi secara baik selama bertahun-tahun bahkan mungkin ratusan tahun di dalam lingkup komunitas tradisional mereka[10], bahkan sampai sekarang meskipun sedikit demi sedikit telah terkikis oleh perkembangan zaman modern. Namun demikian, budaya dan kearifan lokal inilah yang akan penulis angkat dalam tulisan ini, untuk mempertebal keyakinan masyarakat, khususnya di Sulawesi Selatan agar kembali dapat dijadikan landasan dan norma dalam berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, diharapkan dapat diwujudkan generasi unggul yang menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian yang bersinergi dengan kearifan lokal (local wisdom).

Budaya dan kearifan lokal yang dimaksud oleh penulis adalah Siri’, yakni nilai kearifan yang menggambarkan tentang harga diri dan rasa malu. Dengan adanya Siri’ ini, seseorang yang telah memahami maknanya secara mendalam, tidak akan melaksanakan perbuatan yang bertentangan dengan agama, hukum, adat, dan segala nilai, serta peradaban yang menjadi landasan tindak-tanduk masyarakat Sulawesi Selatan dalam berinteraksi secara sosial. Budaya Siri’, di dalamnya juga terdapat makna yang paling eksklusif, yaitu “ati maccinong” (hati jernih).

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Bugis-Makassar, budaya Siri’ merupakan nilai utama yang berharga dengan melahirkan nilai lempu’(kejujuran), acca (kecendekiaan), sitinaja (kepatutan), getting (ketegasan), dan reso (ketekunan atau usaha), yang dapat menjadi cerminan untuk mewujudkan sikap perdamaian dalam masyarakat.

Konsep budaya yang tertanam dalam komunitas masyarakat Sulawesi Selatan adalah 4S (Sipakatau, Sipakainge’, Sipakalebbi, dan Sipatokkong) yang dapat menjadi nilai budaya untuk mengantarkan terhadap pemahaman mengenai nilai-nilai perdamaian secara umum. Sipakatau bermakna saling menghormati antara satu dengan lainnya, dapat pula berarti menghargai dan saling mengasihi. Sipakainge’ bermakna saling mengingatkan (tentunya dalam kebaikan). Sipakalebbi berarti saling menghargai, melarang melihat kekurangan manusia dan sebagai wujud apresiasi. Sedangkan Sipatokkong berarti saling bekerja sama atau saling membantu. Semua patut dijadikan landasan berperilaku untuk menghindari terjadinya konflik.

Untuk menanamkan sikap perdamaian dalam rangka mewujudkan generasi unggul, maka sebuahinovasiperludiimplementasikandansalahsatunyaadalah pilar “CERDAS”yang tanpa disadari sejalan dengan budaya dan kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan. Pilar “CERDAS” merupakan sistem pendidikan perdamaian yang mencakup semua level usia dan merupakan salah satu blue print Sekolah Cerdas dari Peace Institute of South Sulawesi, lembaga di bawah naunganYPMIC (Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Cerdas). Pilar CERDAS meliputi Caring, Emphaty, Relation, Diversity, Awareness, dan Spirituality.

  1. Caring

Pilar caring yang perlu ditanamkan yakni rasa kasih sayang (compassion), yang merupakan panggilan jiwa, komitmen bersama, dan perbuatan baik dalam membangun hubungan dengan orang lain, kemampuan dalam membangun rasa kasih sayang (competence), kepercayaan diri (confidence), suara hati (concience), dan komitmen (comitment). Pilar ini tidak bisa dipelajari secara teori, namun melalui proses pengalaman dan pembelajaran nilai dan hikmah yang cukup panjang dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Emphaty

Empati artinya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Empati merupakan kecerdasan sosial, yang meliputi aspek kognitif dan afektif. Saat orang lain merasakan kesedihan, posisi kita harus sebagai penguat bukannya ikut terlarut dalam kesedihan. Prakteknya meliputi understanding other, orientasi melayani orang lain, dan membangun orang lain, bukan malah menjatuhkan, memanfaatkan perbedaan, dan sadar dengan aturan yang ada dalam mewujudkan perdamaian.

  1. Relation

Relasi dapat diartikan sebagai usaha untuk membentuk kerja sama dan kebersamaan. Membangun relasi yang baik antar umat manusia dapat mendukung untuk menciptakan rasa saling memilki dan kedamaian bersama.

  1. Diversity

Perbedaan identitas yang meliputi sosial, keagamaan, dan budaya akan menimbulkan perbedaan dan keragaman. Oleh karena itu, sikap positif yang harus diambil sebagai agen perdamaian adalah menghadirkan rasa penerimaan (acceptance) apa adanya dalam perbedaan untuk mewujudkan perdamaian dan stabilitas (harmony in diversity).

  1. Awareness

Kesadaran ini harus dimiliki oleh tiap individu, yang meliputi kesadaran pada diri sendiri, dunia luar, ruang, dan waktu. Kita harus senantiasa sadar akan potensi diri, agar tidak selalu membandingkan diri dengan orang lain. Kita tidak boleh dijajah oleh teknologi.

  1. Spirituality

Spiritualitas yang dimaksud adalah bagaimana cara memaknai hidup, ketenangan hidup, kedekatan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, dan bagaimana mencapai kebahagiaan. Cara memaknai hidup adalah memberikan kebaikan setiap waktu yang bermakna massivepada orang lain. Perjalanan terjauh yakni mencapai tingkat spiritualitas. Dengan menjaga hati dan pikiran, merefleksikan diri secara dalam dan jauh untuk mencapai kebahagiaan dan ketenangan hidup.  Menebar senyum, senantiasa berbuat baik, ikhlas dalam tiap ibadah dapat menjadi pintu menuju kedamaian batin, diri sendiri untuk disebarkan kepada orang lain di sekitar.

Nilai-nilai yang tertulis dalam penjelasan di atas dapat menjadi landasan dan prinsip yang dapat disebarkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai awal pembiasaan akan kebaikan, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa, dan negara. “Ala bisa karena biasa”. Seluruh prinsip dan nilai-nilai perdamaian yang telah disebutkan harus diaplikasikan secara nyata, agar tulisan ini tidak hanya menjadi teori belaka. We share because we care.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwasannya untuk mewujudkan generasi unggul yang sejalan dengan tujuan Indonesia di tahun 2045 sebagai golden generationyang mampu bersaing di tatanan global, maka peace education sangatlah penting disebarkan, tanpa melupakan budaya dan nilai kearifan lokal (budaya Siri’, Sipakatau, Sipakainge’, Sipakalebbi, dan Sipatokkong) yang terpatri dalam pilar-pilar “CERDAS” (Caring, Emphaty, Relation, Diversity, Awareness, dan Spirituality), dalam membangun perdamaian yang nyata di muka bumi. Penulis yakin hal tersebut bisa terwujud apabila kita semua konsisten menyebar kedamaian (peace and love). Think locally, act globally !.

Referensi:

[1]Zuhri Zurgobban dan Dasim Budimansyah. Pendidikan Damai sebagai Pembinaan Keadaban Kewarganegaraan di Bidang Sosial. Jurnal Program Studi PGMI, Volume 3, Nomor 1 Maret 2016.

[2] https:// rappler. Idntimes.com/sakinah-haniy/daftar-lini-masa-serangan-teroris-indonesia/full. Diakses pada tanggal 22 Agustus 2018.

[3]www. Tribunnews.com/nasional/2017/11/15/mendagri-bicara-soal-generasi-unggul. Diakses tangal 22 Agustus 2018.

[4]Nur Hidayat. Nilai-Nilai Ajaran Islam tentang Perdamaian (Kajian antara Teori dan Praktek). Jurnal Apliaksi Ilmu-Ilmu Agama. Volume 1, Nomor 1, 2017.

[5]Ibid,hal 2.

[6]Assegaf, Abd Rahman, 2004. Pendidikan tanpa Kekerasan: Tipologi Kondisi, Kasus, dan Konsep. Yogyakarta: Tiara Wacana.

[7]UNESCO’S Work On Education for Peace and Non-Violence: Building Peace Through Education, hal 3.

[8]Tony Blair, Education is a Security Issue, The Jakarta Post, Jumat, 17 Januari 2014, hal 7

[9]Faisal R. Dongoran, Paradigma Membangun Generasi Emas 2045 dalam Perspektif Filsafat Pendidikan. Jurnal Tabularasa PPS Unimed, Volume 11, Nomor 1 april 2014.

[10] Darwis Muhdana, Kerukunan Umat Beragama Berbasis Kearifan Lokal di Kota Makassar. Jurnal Diskursus Islam, Volume 3 Nomor 1, Tahun 2015

 

Penulis: La Ode Agustino Saputra