Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi pusat perhatian dunia dengan pesona alamnya, ragam budaya dan agama yang dimilikinya. Keberagaman tersebut telah menjadi aset besar bangsa Indonesia, namun tak elak pula menjadi pemicu konflik. Penduduk dalam suatu wilayah tersebut akan hidup damai apabila tercipta kerukunan diantara mereka, sikap saling menghargai dan menghormati. Oleh karena itu, toleransi perlu ditanamkan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Micheal Wazler bahwa toleransi adalah membangun hidup damai diantara berbagai kelompok masyarakat dari berbagai perbedaan latar belakang sejarah, kebudayaan dan identitas.

Menurut Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, saat ini dalam kehidupan beragama seolah telah kehilangan esensi dan substansi dari agama itu sendiri. Sehingga sangat penting jika dikatakan bahwa Indonesia membutuhkan seorang figur yang dapat menerjemahkan konsep nilai-nilai agama dan membumikannya dalam kehidupan masyarakat. Disinilah figur seorang pemuda dibutuhkan untuk melanjutkan gerakan perdamaian karena setiap agama memiliki misi perdamaian dan umat beragama memiliki impian bagaimana perdamaian bisa menjadi tujuan hidup dalam setiap perbedaan, namun yang terjadi beberapa umat beragama melakukan hal yag bertentangan dengan ajaran mereka.

Beberapa kasus konflik telah kita saksikan antara lain konlik di Moro Filipina (Islam dengan Kristen), pembantaian muslim Rohingya oleh umat Budha di Myammar, bentrokan di kota Boda, dan Republik Afrika Tengah antara orang muslim dengan orang Kristen. Di Indonesia sendiri telah muncul berbagai macam konflik agama seperti konflik di Poso antara umat Islam dengan Kristen, konflik agama di Bogor, serta konflik Sunni-Syiah di Jatim.

Untuk menghentikan munculnya kasus-kasus konflik agama seperti ini dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak dan gerakan pemuda yang memiliki kesadaran kemanusiaan agar potensi yang telah ada dapat dimanfaatkan dalam mewujudkan perdamaian. Kepercayaan dalam masyarakat sangatlah penting dalam membangun perdamaian. Hal ini dapat dibangun dengan pendidikan karakter khususnya pada generasi muda sehingga dapat menciptakan sikap saling pengertian, toleransi, dan saling menghormati.

Pendidikan perdamaian pada generasi muda dapat dilihat dari program Sekolah Cerdas yang diinisiasi oleh Peace Institute of South Sulawesi, lembaga perdamaian di bawah naungan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Cerdas (YPMIC). Program ini diperuntukkan untuk semua level usia sesuai dengan tumbuh kembangnya dengan demikian pesan perdamaian dapat tersampaikan dengan efektif dan tepat sasaran.

Hal-hal kecil dapat dilakukan dalam rangka menyebarkan nilai-nilai perdamaian seperti membantu sesama, menyebarkan brosur atau stiker yang berisikan pesan-pesan perdamaian, karena semakin banyak orang yang terlibat, maka akan semakin banyak yang menyebarkan cinta perdamaian di muka bumi ini. Semakin sering generasi muda ditempa dan dididik akan gambaran positif serta keunikan nilai budaya dan agama lain, semakin sulit mereka untuk mencari kesalahan orang lain. Dengan demikian, perdamaian bisa terwujud melalui partisipasi kaum muda.

Penulis: Kasmawati