Makassar, Minggu, 9 Agustus 2026 — Semangat untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, ramah anak, dan bebas dari segala bentuk kekerasan digaungkan melalui Kampanye Publik Stop Kekerasan di Dunia Pendidikan yang berlangsung meriah di kawasan Car Free Day Jalan Boulevard, Kota Makassar, Minggu (9/8/2026). Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi berbagai organisasi sekaligus wadah bagi masyarakat untuk memperoleh edukasi, layanan kesehatan, dan berpartisipasi dalam aksi sosial.
Kegiatan yang terbuka bagi masyarakat umum tersebut menghadirkan sejumlah agenda utama, mulai dari senam bersama, pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah, hingga talk show pendidikan. Antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi, dengan jumlah peserta yang mengikuti masing-masing kegiatan inti mencapai ratusan orang.
Kampanye ini merupakan hasil kolaborasi Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT), Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Cerdas (YPMIC), Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Makassar, Permabudhi, Pelita Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Selatan, serta Kelompok Kerja Pengawas Pendidikan Agama Provinsi Sulawesi Selatan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan senam bersama yang dipandu langsung oleh instruktur senam profesional. Masyarakat yang sedang menikmati aktivitas Car Free Day turut bergabung dalam kegiatan tersebut. Suasana pagi semakin semarak dengan antusiasme peserta yang mengikuti gerakan senam bersama sebagai bagian dari kampanye yang mengintegrasikan pesan pendidikan dengan kepedulian terhadap kesehatan masyarakat.
Setelah senam, masyarakat juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis yang disiapkan oleh tim YPMIC. Pemeriksaan meliputi tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat. Layanan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat yang memanfaatkan momentum Car Free Day untuk sekaligus mengetahui kondisi kesehatan mereka.
Kehadiran layanan kesehatan dalam kampanye ini menjadi bagian dari pendekatan YPMIC yang melihat isu pemberdayaan masyarakat secara menyeluruh. Pendidikan, kesehatan, dan perlindungan anak merupakan bagian yang saling berkaitan dalam membangun masyarakat yang sehat, produktif, dan berdaya.
Selain pemeriksaan kesehatan, kegiatan juga menghadirkan donor darah sebagai bentuk aksi kemanusiaan. Masyarakat diberikan kesempatan untuk berkontribusi melalui donor darah sebagai wujud kepedulian terhadap sesama. Antusiasme masyarakat dalam mengikuti kegiatan sosial tersebut menunjukkan bahwa pesan kampanye dapat diwujudkan tidak hanya melalui penyampaian informasi, tetapi juga melalui aksi nyata yang memberikan manfaat langsung.
Talk Show Pendidikan Hadirkan Akademisi, Pemerintah, dan Praktisi Pesantren
Salah satu agenda utama dalam Kampanye Publik Stop Kekerasan di Dunia Pendidikan adalah talk show pendidikan yang menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang. Diskusi tersebut membahas pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, humanis, dan mampu melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan.
Talk show menghadirkan Dr. H. Muhammad, S.Ag., M.Ag., selaku Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar; Prof. Nur Hidayah, S.Kep., Ns., M.Kep., selaku Founder YPMIC; serta Prof. Dr. H. Muhammad Amri, Lc., M.Ag., selaku Wakil Rektor IV UIN Alauddin Makassar sekaligus Direktur Pesantren IMMIM Putra.
Diskusi dipandu langsung oleh Dr. Arbianingsih, selaku Advisor YPMIC, yang mengarahkan jalannya pembahasan agar isu kekerasan di dunia pendidikan dapat dilihat dari berbagai perspektif, baik dari sisi kebijakan, akademik, pengelolaan lembaga pendidikan, maupun pemberdayaan masyarakat.
Dalam talk show tersebut, para narasumber menekankan bahwa upaya menghentikan kekerasan di dunia pendidikan membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Sekolah, madrasah, pesantren, keluarga, pemerintah, organisasi masyarakat, akademisi, serta masyarakat secara luas memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan memberikan ruang tumbuh yang sehat bagi anak.
Founder YPMIC, Prof. Nur Hidayah, menegaskan bahwa gerakan Stop Kekerasan di Dunia Pendidikan harus dibangun sebagai gerakan bersama dan tidak berhenti pada satu kegiatan kampanye.
“Kita ingin membangun kesadaran bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama. Pendidikan harus menjadi ruang yang aman bagi anak untuk belajar, bertumbuh, mengembangkan potensi, dan mewujudkan cita-citanya. Karena itu, kolaborasi seperti ini harus terus diperkuat agar gerakan untuk menghentikan kekerasan dapat memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan,” ujar Prof. Nur Hidayah.
Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa isu perlindungan anak memiliki perhatian yang luas di tengah masyarakat. Kehadiran pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, lembaga keagamaan, tenaga kesehatan, serta masyarakat umum menjadi modal penting untuk membangun gerakan yang lebih kuat.
YPMIC Dorong Kolaborasi Berkelanjutan
Kegiatan yang berlangsung di tengah suasana Car Free Day tersebut tidak hanya menjadi kampanye mengenai penghentian kekerasan di dunia pendidikan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan dan kolaborasi antara berbagai elemen masyarakat.
Ratusan peserta terlibat dalam masing-masing kegiatan inti yang diselenggarakan. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa isu pendidikan dan perlindungan anak memiliki perhatian yang besar dari masyarakat. Masyarakat tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga terlibat langsung dalam berbagai aktivitas, mulai dari senam, pemeriksaan kesehatan, donor darah, hingga mengikuti diskusi pendidikan.
Bagi YPMIC, pelaksanaan kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen untuk terus menghadirkan program pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan berbagai aspek kehidupan. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat YPMIC dalam membangun masyarakat yang cerdas, sehat, berdaya, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.
Kampanye Publik Stop Kekerasan di Dunia Pendidikan juga menjadi pra-event Sarasehan Pondok Pesantren Regional Sulawesi yang akan dilaksanakan pada 22–23 Agustus 2026 di Makassar. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, diharapkan pembahasan mengenai perlindungan anak, tata kelola pesantren, penguatan kelembagaan, serta berbagai isu strategis pendidikan dapat terus dikembangkan melalui forum yang lebih luas.
Melalui kegiatan ini, YPMIC bersama seluruh mitra kembali menegaskan bahwa menciptakan pendidikan yang aman bukan hanya tentang menghentikan kekerasan, tetapi juga tentang membangun budaya yang menghadirkan kasih sayang, penghormatan, kepedulian, dan kesempatan bagi setiap anak untuk berkembang.
Semarak kegiatan di Car Free Day Boulevard Makassar menjadi bukti bahwa gerakan sosial yang dibangun melalui kolaborasi dapat menghadirkan energi positif di tengah masyarakat. YPMIC berharap semangat yang telah terbangun pada kegiatan ini tidak berhenti setelah acara berakhir, tetapi terus berkembang menjadi gerakan bersama untuk menciptakan dunia pendidikan Indonesia yang semakin aman, humanis, inklusif, dan bermartabat.
Discover more from YPMIC
Subscribe to get the latest posts sent to your email.




