Dalam teori sosiologi, yaitu teori struktural fungsional dinyatakan bahwa family is the basic unit of society artinya bila institusi keluarga dalam sebuah masyarakat rapuh, maka rapuhlah masyarakat itu. Para struktural-fungsionalis yang konservatif sangat percaya akan pentingnya institusi keluarga dalam menciptakan kedamaian dan kemakmuran masyarakat. Dalam keluarga, ibu merupakan madrasatul ula,  dengan kata lain, bermula dari ibu lah anak-anak belajar tentang kehidupan.

Berdasarkan penyataan tersebut, setelah penulis mengikuti training sebagai volunteer di Sekolah Cerdas (SC) angkatan ke-3, Peace Institute of South Sulawesi, lembaga perdamaian di bawah naungan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Cerdas (YPMIC), penulis termotivasi melakukan sesuatu untuk lingkungan, yaitu Care Sharing (CS). Care Sharing (CS) merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk menumbuhkan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagi rasa peduli terhadap sesama yang dimulai dari lingkup keluarga.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan mensosialisasikan materi tentang perdamaian diikuti dengan sharing session melalui game edukatif, dan membuat sebuah video from mother to mother for world kemudian dipublish. Penggunaan game edukatif ini sebagai media sharing yang menarik dan dekat dengan peserta didik yang diharapkan akan menumbuhkan kesadaran peserta untuk menumbukan Caring, Empaty, Relation, Diversity, Awareness, Spiritual (CERDAS) dalam hidup bermasyarakat.

Hal tersebut didukung oleh pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise yang menyatakan, “Saya mengimbau agar seluruh perempuan, khususnya kaum ibu mampu menjadi peace maker minimal dalam lingkup keluarga karena keluarga adalah lingkungan yang paling pertama untuk menanamkan nilai-nilai perdamaian”. Jadi, melalui peran ibu dalam keluarga dapat membentuk karakter dan menumbuhkan rasa cinta perdamaian di keluarga dan masyarakat.

Dalam Care Sharing (CS), ada beberapa hal yang dapat ditanamkan kepada ibu agar diaplikasikan dalam keluarga, khususnya anak untuk mewujudkan kedamaian, yaitu: Pertama, mulai dari sekarang. Tak ada batasan waktu dan umur dalam pembentukan karakter. Manusia adalah makhluk berpikir yang bisa berproses menjadi baik kapan saja. Untuk itulah hal-hal yang berbau kekerasan harus secepatnya dicegah guna menghindari terhambatnya belajar damai. Kedua, mulai dari diri sendiri. Setiap diri harus mampu membangun kesadaran dan menguatkan nilai luhur di dalam dirinya sebelum melakukan transformasi nilai kepada orang lain. Ketiga, mulai dari hal kecil. Sikap dan perbuatan baik yang dianggap sepele selama ini harus disadari memiliki nilai besar bagi pembentukan karakter. Misalnya, membiasakan anak untuk mengucapkan permintaan maaf, terima kasih, toleransi dsb. Keempat, menanamkan Caring (peduli dengan sesama); Emphaty (mampu merasakan apa yang diraskan oleh orang lain); Relation (membina hubungan yang baik dengan orang lain); Diversity (menghargai perbedaan dengan orang lain); Awareness (sadar akan diri sendiri); Spiritual (kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif)di dalam keluarga.

Apabila beberapa poin tersebut dapat diaplikasikan dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari, maka hal tersebut mampu menjadi benteng bagi individu untuk melindungi dirinya agar tidak  mudah terprovokasi dengan berbagai propaganda radikalisme yang menebarkan sikap intoleran.

 

Penulis: Musdalipa