Makassar, 20 Juli 2026 — Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Cerdas (YPMIC) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, dan inklusif melalui keterlibatannya sebagai salah satu penyelenggara Kampanye Publik Stop Kekerasan di Dunia Pendidikan. Kegiatan yang akan dilaksanakan pada Minggu, 9 Agustus 2026 di kawasan Car Free Day (CFD) Boulevard, Kota Makassar ini merupakan hasil kolaborasi lintas organisasi sebagai bentuk kepedulian terhadap perlindungan anak dan penguatan budaya pendidikan yang bebas dari segala bentuk kekerasan.

Kampanye publik ini diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT) bersama Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Cerdas (YPMIC), Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Makassar, Permabudhi, serta Pelita Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Selatan. Kolaborasi ini menjadi wujud nyata sinergi antarorganisasi dalam membangun kesadaran masyarakat bahwa perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan keterlibatan seluruh elemen bangsa.

Bagi YPMIC, keterlibatan dalam kampanye ini merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan pendidikan, perlindungan anak, kesehatan, dan penguatan kolaborasi lintas sektor. Selama lebih dari satu dekade, YPMIC terus mendorong lahirnya berbagai program yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, khususnya kelompok rentan, melalui pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.

Persiapan kegiatan diawali dengan rapat koordinasi yang dihadiri oleh perwakilan seluruh organisasi penyelenggara. Dari YPMIC, rapat tersebut dihadiri oleh Maria Ulfah Ashar selaku Program Director dan Muh. Farid Abidin selaku Media Information & Communication Director. Pertemuan ini membahas berbagai aspek teknis pelaksanaan kegiatan, strategi kolaborasi, pembagian peran antar mitra, serta upaya memperluas jangkauan kampanye agar mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Program Director YPMIC, Maria Ulfah Ashar, menyampaikan bahwa keterlibatan YPMIC dalam kampanye ini merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan sosial untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang melindungi setiap anak dari berbagai bentuk kekerasan.

“Saya sangat tertarik untuk berpartisipasi dalam kegiatan Kampanye Publik Stop Kekerasan di Dunia Pendidikan karena sejalan dengan peran dan kepedulian saya sebagai dosen, akademisi, serta individu yang aktif dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Bagi saya, menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, ramah anak, dan bermartabat merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.”

Maria Ulfah menambahkan bahwa kampanye ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu memberikan dampak nyata dalam membangun kesadaran publik mengenai pentingnya perlindungan anak.

“Melalui kegiatan ini, saya berharap dapat berkontribusi dalam mengedukasi masyarakat, memperkuat kesadaran tentang perlindungan anak, serta mendorong terciptanya budaya pendidikan yang humanis, penuh kasih sayang, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Saya sangat antusias untuk menjadi bagian dari gerakan ini dan berkolaborasi dalam menghadirkan perubahan positif yang berkelanjutan bagi dunia pendidikan,” ungkap Maria Ulfah.

Kampanye Publik Stop Kekerasan di Dunia Pendidikan dirancang sebagai gerakan edukatif yang melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, dosen, orang tua, organisasi masyarakat, komunitas, hingga pemangku kebijakan. Selain mengangkat isu perlindungan anak, kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan sekolah, madrasah, dan pondok pesantren yang aman, nyaman, inklusif, dan bermartabat.

Berbagai kegiatan akan memeriahkan kampanye tersebut, di antaranya pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah, talk show pendidikan, deklarasi Stop Kekerasan di Dunia Pendidikan, serta penandatanganan komitmen bersama sebagai simbol dukungan terhadap gerakan perlindungan anak di lingkungan pendidikan.

Kegiatan ini juga merupakan pra-event Sarasehan Pondok Pesantren Regional Sulawesi yang akan diselenggarakan pada 22–23 Agustus 2026 di Makassar. Sarasehan tersebut akan menjadi forum strategis yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas isu-isu penting mengenai tata kelola pesantren, perlindungan anak, ketahanan ideologi, kemandirian ekonomi, serta transformasi digital dalam pengembangan pesantren di Indonesia.

Melalui kolaborasi ini, YPMIC kembali menegaskan komitmennya untuk terus membangun kemitraan dengan berbagai organisasi, institusi pendidikan, dan komunitas dalam menghadirkan program-program yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Sinergi lintas sektor diyakini menjadi kunci dalam membangun budaya pendidikan yang lebih aman, inklusif, dan berorientasi pada perlindungan hak-hak anak.

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat, YPMIC percaya bahwa menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari kekerasan merupakan investasi jangka panjang bagi lahirnya generasi Indonesia yang sehat, berkarakter, dan mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Melalui gerakan kolaboratif ini, YPMIC berharap semakin banyak pihak yang terlibat aktif dalam membangun budaya pendidikan yang humanis, penuh kasih sayang, dan berkelanjutan.


Discover more from YPMIC

Subscribe to get the latest posts sent to your email.