Ujaran kebencian adalah tindakan komunikasi yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam bentuk provokasi atau penghinaan kepada individu atau kelompok lain dalam berbagai aspek seperti ras, warna kulit, suku, jenis kelamin, disabilitas, orientasi seksual, kewarganegaraan, agama, dan lain-lain. Dalam pengertian hukum, ujaran kebencian adalah ucapan, tingkah laku, tulisan, atau tayangan yang dilarang karena dapat memicu terjadinya tindak kekerasan dan prasangka baik dari pelaku pernyataan maupun korban perbuatan tersebut.

Ada kekhawatiran yang semakin besar tentang kecenderungan pengguna media sosial Indonesia terhadap kebencian. Indonesia merupakan pengguna internet terbesar keempat di dunia (132,7 juta pengguna internet aktif), dan 90% di antaranya adalah pengguna aktif media sosial. Menurut PPIM UIN Jakarta, PusPIDeP Yogyakarta, dan UNDP Indonesia, pengguna media sosial Indonesia lebih menyukai platform media sosial Jihadi, Tahriri, Salafi, dan Tarbawi daripada yang Islam moderat. Terbukti, sekitar 51% pengguna internet di kalangan guru sekolah dasar sepakat dengan pendapat intoleran. Sementara itu, 6% dari mereka telah menunjukkan pandangan sepihak dari The Other. Lebih lanjut, berita viral di timeline dunia maya telah berkontribusi pada tumbuhnya sentimen identitas agama. Sejalan dengan itu, sepertiga dari 1.731 kasus hoax pada 2018-2019 di Indonesia terkait dengan intoleransi terhadap The Other. Oleh karena itu, inisiatif ini bertujuan untuk memberikan pelatihan media remaja untuk mengembangkan narasi alternatif perdamaian untuk mengatasi ujaran kebencian.

Ujaran kebencian terjadi dan berkembang terutama melalui media sosial karena popularitasnya. Ujaran kebencian memiliki dampak yang besar dalam membentuk cara berpikir orang, terutama di tempat yang disebarkan oleh influencer media sosial dengan jutaan pengikut online. Dengan bertambahnya jumlah pengguna internet, pentingnya influencer media sosial menjadi sangat krusial, namun sayangnya, popularitas influencer media sosial damai masih minim jumlahnya.

Oleh karena itu YPMIC bekerjasama dengan Joint Indonesia KAICIID Fellow Program 2020 dan lembaga lainnya diantaranya GEMAKU, Madrasah Damai, Universitas Katolik Indonesia, dan Yayasan Perdamaian Lintas Agama dan Golongan.

Virtual Group Discussion ini dilaksanakan pada tanggal 8 Desember 2020 dan pada tanggal 6 Januari 2021 untuk bersama menyusun kegiatan webinar yang akan dilaksanakan pada bulan februari tersebut. Selain persiapan untuk webinar tersebut, Workshop Evaluasi Modul pun dilakukan sebelum kegiatan tersebut dilaksanakan yaitu pada tanggal 23 dan 24 Januari 2021.

Rencananya webinar series akan dilaksanakan sebanyak 4 kali dalam 1 bulan diantaranya Webinar Series 1 pada tanggal 6 Februari 2021, Webinar Series 2 ditanggal 13 Februari 2021, Webinar Series 3 ditanggal 20 Februari 2021 dan Webinar Series 4 yaitu pada tanggal 27 Februari 2021 mendatang.