Sebuah refleksi perwakilan YPMIC setelah mengikuti Pelatihan Kampanye Media Sosial YPMP Sulawesi Selatan
Muh. Farid Abidin

Ada hal yang saya pikirkan kembali setelah dua hari mengikuti sebuah pelatihan.
Ternyata, berbicara di media sosial bukan hanya tentang bagaimana membuat sebuah konten terlihat menarik.
Bukan hanya tentang memilih warna yang tepat, membuat desain yang bagus, menulis caption yang menarik, atau mencari cara agar sebuah postingan mendapatkan banyak perhatian.

Ada sesuatu yang jauh lebih penting.
Bagaimana membuat pesan yang kita sampaikan benar-benar sampai kepada orang lain, tanpa membuat mereka merasa dihakimi.

Pada 12–13 Agustus 2026, saya berkesempatan mewakili Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Cerdas (YPMIC) untuk mengikuti Pelatihan Kampanye Media Sosial yang diselenggarakan oleh Yayasan Pemerhati Masalah Perempuan (YPMP) Sulawesi Selatan di Sekretariat YPMP.

Dua hari tersebut bagi saya bukan hanya tentang belajar media sosial.
Saya justru menemukan cara pandang baru tentang bagaimana sebuah pesan sosial seharusnya dibangun.
Media sosial bukan sekadar tempat untuk berbicara
Selama ini kita mungkin melihat media sosial sebagai ruang untuk membagikan informasi.
Ada berita.
Ada foto.
Ada video.
Ada edukasi.
Ada kampanye.

Tetapi setelah mengikuti pelatihan ini, saya semakin menyadari bahwa media sosial juga merupakan ruang perjumpaan dengan masyarakat.
Apa yang kita tuliskan dapat dibaca oleh orang dengan latar belakang yang berbeda.
Cara berpikir yang berbeda.
Pengalaman hidup yang berbeda.
Bahkan pengalaman terhadap sebuah persoalan yang berbeda.

Karena itu, ketika kita membawa isu sosial ke media sosial, kita tidak hanya perlu bertanya:
“Apa yang ingin saya sampaikan?”
Tetapi juga:
“Bagaimana pesan ini akan diterima oleh orang lain?”

Pertanyaan sederhana ini ternyata sangat penting.
Ketika membicarakan KBGS menjadi sebuah tantangan

Salah satu pembelajaran yang paling membekas bagi saya adalah ketika kami belajar bagaimana melakukan kampanye digital mengenai Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS).
Ini bukan topik yang sederhana.
KBGS merupakan isu yang sensitif.
Ada pengalaman korban.
Ada keluarga.
Ada nilai sosial.
Ada budaya.
Ada relasi antara laki-laki dan perempuan.
Ada pula berbagai pandangan masyarakat yang terkadang berbeda satu sama lain.

Karena itu, menyampaikan pesan mengenai KBGS tidak cukup hanya dengan mengatakan:
“Ini benar dan itu salah.”

Kita juga perlu memikirkan bagaimana pesan tersebut dapat membuka ruang kesadaran.
Bukan menutup ruang percakapan.
Bukan membuat orang merasa diserang.
Bukan pula membuat kelompok tertentu merasa sedang dituduh.
Di sinilah saya belajar bahwa kampanye bukan tentang memenangkan perdebatan.
Kampanye adalah tentang membangun kesadaran.
Bagaimana mengajak tanpa menghakimi?
Pertanyaan ini menjadi salah satu hal yang paling saya renungkan.

Ketika membuat kampanye tentang KBGS, sangat mudah bagi kita untuk menggunakan bahasa yang keras.
Mudah untuk mengatakan bahwa seseorang salah.
Mudah untuk menunjuk perilaku tertentu.
Tetapi apakah cara tersebut selalu membuat orang mau mendengarkan?
Belum tentu.
Mungkin seseorang justru merasa dirinya sedang disudutkan.
Mungkin orang tua merasa dirinya sedang disalahkan.
Mungkin laki-laki merasa sedang dituduh.
Mungkin perempuan merasa pengalaman mereka sedang disederhanakan.

Dan pada akhirnya, pesan yang sebenarnya ingin kita sampaikan justru berhenti sebelum sampai kepada orang yang membutuhkannya.

Karena itu, saya belajar bahwa kampanye yang baik bukan kampanye yang paling keras suaranya, tetapi kampanye yang mampu membuat orang berhenti, berpikir, dan melihat persoalan dari sudut pandang yang mungkin sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan.

Dari “menggurui” menjadi “mengajak berpikir”
Saya kemudian mencoba menerapkannya melalui sebuah konten sederhana tentang cemburu dalam hubungan.

Kita sering mendengar:
“Cemburu itu tanda cinta.”

Kalimat yang sangat sederhana.
Bahkan mungkin terdengar romantis.
Tetapi saya mencoba mengajukan pertanyaan lain:
Benarkah setiap bentuk cemburu adalah cinta?

Ketika seseorang mulai melarang pasangannya berteman dengan orang tertentu.
Ketika seseorang meminta password media sosial pasangannya.
Ketika seseorang merasa berhak mengetahui setiap aktivitas pasangannya.

Ketika seseorang mengatur pakaian, pergaulan, bahkan kehidupan pasangannya atas nama cinta.
Apakah itu masih sekadar cemburu?
Atau sudah berubah menjadi kontrol?

Dari pertanyaan sederhana tersebut, kita dapat mengajak masyarakat berpikir tanpa harus mengatakan kepada mereka bahwa mereka adalah orang yang salah.

Cemburu adalah perasaan.
Mengontrol adalah pilihan.

Bagi saya, kalimat sederhana seperti ini justru dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan KBGS secara lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Belajar membuat konten yang tidak hanya informatif, tetapi juga manusiawi
Pelatihan ini juga membuat saya melihat kembali cara saya membuat konten.
Konten edukatif tidak harus selalu terlihat seperti materi seminar.
Konten inspiratif tidak harus selalu menggunakan kata-kata yang besar.

Terkadang, satu percakapan sederhana antara dua orang bisa menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang jauh lebih besar.

Karena masyarakat tidak selalu membutuhkan ceramah.
Terkadang mereka hanya membutuhkan sebuah pertanyaan yang membuat mereka berkata:
“Ternyata selama ini saya tidak pernah memikirkannya seperti itu.”
Dan mungkin, di situlah kampanye mulai bekerja.
Tetapi sebelum berbicara kepada masyarakat, kita juga perlu menjaga diri sendiri
Ada pembelajaran lain yang tidak kalah penting selama pelatihan ini.

Keamanan bermedia sosial.
Kita sering sibuk memikirkan bagaimana membuat konten menjadi viral, tetapi lupa bahwa akun media sosial juga harus dilindungi.
Mulai dari keamanan akun, penggunaan kata sandi yang kuat, autentikasi, kewaspadaan terhadap tautan dan pesan mencurigakan, hingga bagaimana menjaga informasi pribadi yang kita bagikan di ruang digital.
Bagi saya, ini merupakan pengingat bahwa menjadi pegiat kampanye digital berarti juga harus menjadi pengguna media sosial yang cerdas dan aman.

Sebab bagaimana kita ingin mengajak masyarakat membangun ruang digital yang sehat jika kita sendiri belum cukup memahami bagaimana menjaga keamanan di dalamnya?

Dua hari, tetapi membawa pulang banyak pertanyaan
Saya datang ke pelatihan ini untuk belajar tentang kampanye media sosial.

Tetapi saya pulang membawa sesuatu yang lebih besar:
kesadaran bahwa cara kita menyampaikan pesan sama pentingnya dengan pesan itu sendiri.
Terutama ketika kita berbicara tentang KBGS.
Kita ingin masyarakat memahami.
Kita ingin korban merasa didengar.
Kita ingin lingkungan menjadi lebih aman.
Kita ingin orang memahami batas, persetujuan, penghormatan, dan kesetaraan.

Tetapi semua tujuan itu membutuhkan cara komunikasi yang tepat.
Karena perubahan tidak selalu dimulai dari kalimat yang paling keras.
Terkadang perubahan justru dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana:
“Bagaimana jika kita melihat persoalan ini dari sudut pandang orang lain?”

Kampanye digital bukan tentang siapa yang paling benar
Bagi saya, inilah pelajaran terbesar dari dua hari tersebut.
Kampanye digital bukan tentang siapa yang paling benar.
Bukan tentang siapa yang paling banyak berbicara.
Bukan pula tentang siapa yang paling banyak mendapatkan likes dan shares.

Kampanye adalah tentang bagaimana sebuah pesan dapat menjadi jembatan menuju kesadaran.
Bagaimana seseorang yang awalnya tidak peduli menjadi mulai memperhatikan.
Bagaimana seseorang yang tidak memahami menjadi mau belajar.

Bagaimana seseorang yang selama ini menganggap suatu perilaku sebagai hal biasa mulai bertanya:
“Jangan-jangan selama ini ada yang perlu saya ubah?”

Dan jika sebuah konten mampu membuat satu orang berpikir ulang tentang cara ia memperlakukan orang lain, mungkin konten tersebut sudah memberikan dampak.

Dari YPMP, untuk ruang digital yang lebih aman
Saya berterima kasih kepada Yayasan Pemerhati Masalah Perempuan (YPMP) Sulawesi Selatan atas ruang belajar yang diberikan dalam pelatihan ini.

Sebagai perwakilan YPMIC, pengalaman ini menjadi bagian dari perjalanan untuk terus belajar bagaimana menggunakan media sosial bukan hanya sebagai ruang berbagi informasi, tetapi juga sebagai ruang edukasi, advokasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Terutama dalam menyuarakan isu KBGS yang membutuhkan keberanian, tetapi juga membutuhkan kepekaan.
Kita perlu berbicara.
Tetapi kita juga perlu mendengar.
Kita perlu mengedukasi.
Tetapi kita juga perlu memahami.
Kita perlu menyuarakan perubahan.
Tetapi jangan sampai cara kita menyuarakannya justru membuat orang lain merasa didiskriminasi.

Karena pada akhirnya, kampanye yang baik bukan hanya tentang membuat orang melihat konten kita.
Lebih dari itu, kampanye adalah tentang membuat orang melihat persoalan dengan cara yang berbeda.

Dan mungkin, dari perubahan cara melihat itulah perubahan perilaku dapat dimulai.
Mari membangun ruang digital yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.

Tulisan ini merupakan refleksi pribadi penulis sebagai perwakilan YPMIC setelah mengikuti Pelatihan Kampanye Media Sosial yang diselenggarakan oleh Yayasan Pemerhati Masalah Perempuan (YPMP) Sulawesi Selatan pada 12–13 Agustus 2026 di Sekretariat YPMP. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan atau mendiskriminasi pihak tertentu, melainkan sebagai refleksi pembelajaran mengenai pentingnya komunikasi yang aman, edukatif, inspiratif, dan inklusif dalam kampanye digital tentang Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS).


Discover more from YPMIC

Subscribe to get the latest posts sent to your email.