Sebuah renungan seorang ibu, pendidik, dan penggiat pendidikan perdamaian
Prof. Dr. Hj. Nur Hidayah, S.Kep., Ns., M.Kes

Ada pengalaman yang membuat saya tidak hanya berpikir, tetapi juga merasakan. Ada peristiwa yang sebelumnya saya bicarakan sebagai sebuah fenomena sosial, tiba-tiba hadir begitu dekat laksana mengetuk pintu rumah sendiri.
Minggu, 9 Agustus 2026, saya baru saja berbicara dalam Kampanye Publik Stop Kekerasan di Dunia Pendidikan di Car Free Day Boulevard Makassar. Saya hadir sebagai pendidik, dosen, Guru Besar Keperawatan, sekaligus penggiat pendidikan perdamaian.
Dalam talkshow itu saya berbicara tentang pentingnya membangun pendidikan yang aman, ramah anak, sehat, humanis, dan bebas dari kekerasan.
Saya berbicara tentang luka yang tidak selalu terlihat. Tentang bagaimana kekerasan tidak hanya berbentuk pukulan, bentakan, penghinaan, intimidasi, perundungan, mempermalukan anak di depan teman-temannya, bahkan hukuman fisik yang dianggap sebagai bagian dari disiplin, semuanya dapat meninggalkan jejak dalam kehidupan seorang anak dimasa akan datang.
Saya berbicara dengan keyakinan bahwa pendidikan harus menjadi tempat anak merasa aman untuk belajar, tumbuh, dan bermimpi.
Saya pikir saya cukup memahami persoalan ini.
Sampai malam harinya, saya membuka grup WhatsApp sekolah anak saya.

Tiba-Tiba, Ini bukan lagi sekadar fenomena, saat saya baru saja mengirimkan surat izin ke group sekolah, bahwa anak saya tidak dapat mengikuti sekolah karena sedang kurang sehat. Kemudian saya membaca percakapan sebelumnya.
Saya terdiam. Saya membaca bahwa anak-anak dalam satu kelas mendapatkan hukuman berupa “push-up” dan “kengkreng” hingga 100 kali.
Dada saya terasa sesak.
Saya menangis.
Bukan karena saya tidak memahami pentingnya disiplin.
Bukan pula karena saya ingin mengatakan bahwa anak tidak boleh diberi konsekuensi ketika melakukan kesalahan.
Tetapi malam ini saya melihat persoalan ini dari sisi yang sangat berbeda: “sebagai seorang ibu”.
Tiba-tiba pertanyaan-pertanyaan yang selama ini saya sampaikan dalam forum publik terasa begitu dekat.
Apakah untuk mendidik anak kita harus membuat mereka takut?
Apakah rasa sakit adalah jalan menuju disiplin?
Apakah hukuman fisik benar-benar membuat anak menjadi lebih baik?
Atau tanpa kita sadari, kita sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya:
bahwa orang yang memiliki kekuasaan boleh menggunakan rasa sakit untuk membuat orang lain patuh.

Kita sering mengira kekerasan hanya ketika ada luka.
Mungkin inilah yang membuat persoalan kekerasan dalam pendidikan begitu sulit.
Ketika anak dipukul dan tubuhnya memar, kita mudah mengatakan, “Itu kekerasan.”
Tetapi bagaimana dengan anak yang dipermalukan?
Bagaimana dengan anak yang terus diteriaki?
Bagaimana dengan anak yang disebut bodoh?
Bagaimana dengan anak yang dikucilkan?
Bagaimana dengan hukuman fisik yang dianggap “demi mendidik”?
Apakah karena tidak ada darah, tidak ada luka yang terlihat, maka semuanya baik-baik saja?
Tidak.
Ada luka yang tidak terlihat oleh mata.
Luka yang mungkin tidak tampak hari ini, tetapi bisa tinggal dalam ingatan anak jauh lebih lama dan dalam daripada sekedar rasa sakit yang dirasakan saat hukuman diberikan.
Sebagai seorang pendidik bidang kesehatan, justru bagian inilah yang paling saya khawatirkan.
Kita mungkin dapat melihat luka fisik dan mengobatinya.
Tetapi bagaimana kita mengukur rasa takut?
Bagaimana kita mengobati rasa malu?
Bagaimana kita memulihkan kepercayaan diri seorang anak yang merasa dipermalukan?
Dan bagaimana kita memastikan bahwa pengalaman tersebut tidak memengaruhi cara ia melihat dirinya sendiri di masa depan?

Saya ingin menegaskan satu hal. Disiplin tidak harus berarti kekerasan.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa anak tidak membutuhkan disiplin.
Anak membutuhkan aturan.
Anak perlu belajar bertanggung jawab.
Anak perlu memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Tetapi disiplin tidak sama dengan kekerasan.
Ada perbedaan besar antara:
“Saya akan membuat kamu takut supaya kamu menurut.”
dan:
“Saya akan membantu kamu memahami kesalahanmu dan bagaimana memperbaikinya.”
Yang pertama mungkin menghasilkan kepatuhan semu karena takut.
Yang kedua membangun kesadaran karena memahami.
Bukankah tujuan pendidikan seharusnya bukan hanya membuat anak patuh, tetapi membantu mereka menjadi manusia yang mampu mengendalikan diri, bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan mengambil keputusan yang benar?

Kita sering mendengar kalimat:
“Anak sekarang susah diatur.”
“Anak sekarang mentalnya lemah.”
“Dulu kita dihukum juga tidak apa-apa.”
“Kalau tidak keras, anak tidak akan menurut.”

Tetapi mari kita berhenti sejenak.
Apakah anak yang berubah?
Atau dunia tempat anak tumbuh yang berubah?
Anak-anak hari ini tumbuh dalam dunia digital. Mereka menghadapi arus informasi yang luar biasa besar, tekanan sosial yang berbeda, media sosial, dan tantangan kesehatan mental yang tidak sederhana.
Karena itu, cara kita mendidik mereka juga perlu berkembang.
Kita tidak mungkin terus menggunakan cara-cara lama untuk menghadapi persoalan yang komplekspada generasi kita saat ini.

Malam ini saya kembali memikirkan satu hal:
Mungkin tangki cinta kita sebagai pendidik perlu selalu diisi.
Guru juga manusia.
Guru bisa lelah.
Guru bisa tertekan.
Guru bisa marah.
Guru bisa kehilangan kesabaran.
Karena itu, tulisan ini bukan untuk menyalahkan guru.
Justru sebaliknya.
Saya menulis ini karena saya mencintai dunia pendidikan dan menghormati perjuangan para guru, dan saya adalah guru.
Tetapi mungkin kita perlu saling menguatkan.
Ketika berhadapan dengan anak yang sulit, mungkin pertanyaan kita tidak hanya:
“Bagaimana membuat anak ini menurut?”
Tetapi:
“Bagaimana saya membantu anak ini bertumbuh?”
Anak tidak membutuhkan orang dewasa yang sempurna.
Anak membutuhkan orang dewasa yang memberikan rasa aman.
Orang dewasa yang mampu mengatakan:
“Saya marah karena perilakumu salah, tetapi saya tetap menyayangimu.”
“Saya tidak setuju dengan perbuatanmu, tetapi saya tidak akan merendahkan dirimu.”
“Kesalahanmu harus diperbaiki, tetapi kamu tidak harus dipermalukan.”

Anak mungkin lupa apa yang kita ajarkan.
Tetapi mereka akan mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka.
Mereka mengingat guru yang mendengarkannya.
Guru yang memberi kesempatan kedua.
Guru yang tidak mempermalukannya.
Guru yang tegas tetapi tetap manusiawi.
Karena pendidikan bukan hanya transfer of knowledge.
Pendidikan juga adalah transfer of values.
Dan nilai yang paling kuat sering kali tidak diajarkan melalui kata-kata.
Nilai ditularkan melalui keteladanan.

Untuk Para Orang Tua, Ada Satu Harapan yang Lebih Penting
Setiap pagi kita mengantar anak dengan seragam yang rapi.
Kita mencium keningnya.
Kita berkata:
“Belajar yang baik dan rajin, Nak.”
Kita berharap mereka pulang membawa ilmu.
Tetapi setelah pengalaman malam ini, saya memiliki satu harapan yang jauh lebih sederhana:
Semoga anak kita pulang dengan hati yang tetap utuh.
Semoga ia pulang bukan hanya membawa pengetahuan.
Tetapi juga tetap membawa rasa percaya diri, rasa aman, dan keyakinan bahwa sekolah adalah tempat yang aman dan ramah untuk mereka.

Ini Bukan Hanya Tentang Anak Saya
Saya memilih menulis pengalaman ini bukan untuk mencari siapa yang salah.
Bukan untuk mempermalukan siapa pun.
Dan bukan untuk menghakimi.
Saya menulis karena saya tiba-tiba menyadari:
Jika ini bisa terjadi begitu dekat dengan saya, mungkin fenomena seperti ini juga sangat dekat dengan banyak keluarga lain.
Mungkin ada orang tua lain yang membaca pesan serupa.
Mungkin ada anak lain yang diam karena takut bercerita.
Mungkin ada guru yang sebenarnya ingin mendidik dengan cara yang lebih baik, tetapi sedang kelelahan dan membutuhkan dukungan.
Dan mungkin ada sekolah yang membutuhkan kita semua untuk ikut membangun sistem pendidikan yang lebih aman.
Karena itu, pengalaman ini saya titipkan sebagai warning bersama.
Bukan hanya untuk guru.
Bukan hanya untuk orang tua.
Tetapi untuk kita semua.

Mari Kita Berubah Bersama
Mari kita tetap mendisiplinkan anak, tanpa menyakiti.
Mari kita tegas, tanpa mempermalukan.
Mari kita mengoreksi, tanpa merendahkan.
Mari kita membangun karakter, tanpa menanamkan ketakutan.
Dan mari kita isi kembali tangki cinta dan kasih sayang kita sebagai orang dewasa yang dipercaya mendampingi tumbuh kembang anak.
Karena pada akhirnya, anak mungkin tidak mengingat semua nasihat kita.
Tetapi mereka akan mengingat bagaimana kita membuat mereka pandai merasa bukan merasa pandai.
Saya menangis malam ini, tetapi saya tidak ingin air mata ini berhenti sebagai kesedihan seorang ibu.
Saya ingin menjadikannya energi untuk perubahan.
Karena anak-anak kita tidak hanya membutuhkan sekolah yang mengajarkan ilmu.
Mereka membutuhkan sekolah yang aman untuk bertumbuh.
Dan mungkin, perubahan itu tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Ia bisa dimulai dari satu guru yang memilih memahami.
Satu orang tua yang memilih mendengar.
Satu anak yang berani berkata “tidak” terhadap kekerasan.
Dan satu masyarakat yang memilih untuk tidak diam.
Mari cegah kekerasan.
Mari mendidik dengan cinta dan kasih sayang penuh empati.
Mari pastikan anak-anak kita pulang dari sekolah membawa ilmu, bukan ketakutan.

Tulisan ini merupakan refleksi pribadi berdasarkan pengalaman yang saya alami sebagai orang tua setelah membawa materi pada Kampanye Publik Stop Kekerasan di Dunia Pendidikan. Nama dan identitas pihak terkait tidak disebutkan karena tujuan tulisan ini bukan untuk menyalahkan individu, melainkan mengajak kita semua berefleksi dan membangun pendidikan yang lebih aman, manusiawi, dan penuh kasih.


Discover more from YPMIC

Subscribe to get the latest posts sent to your email.