YPMIC Perkuat Literasi Kesehatan Mental melalui Dialog Lintas Agama

Makassar, Sabtu, 3 Oktober 2026 — Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Cerdas (YPMIC) melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) pengembangan modul dalam program “Women Leading Mental Health Resilience through Interreligious Dialogue and Social Cohesion” di Makassar. Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi dengan KAICIID Fellows Programme, yang berfokus pada penguatan kepemimpinan perempuan melalui literasi kesehatan mental, dialog lintas agama, dan kohesi sosial.

Kegiatan ini bertujuan mengembangkan modul literasi kesehatan mental yang mengintegrasikan pendekatan kesehatan mental dengan nilai-nilai keagamaan dan dialog antariman. Inisiatif tersebut dilatarbelakangi oleh perhatian terhadap persoalan kesehatan mental di kalangan generasi muda, termasuk stigma sosial dan pandangan keliru yang dapat menghambat seseorang dalam mencari bantuan.

FGD menjadi salah satu tahapan penting dalam penyusunan Interreligious Mental Health Literacy Module, yang dirancang sebagai bahan pembelajaran bagi perempuan pemimpin komunitas keagamaan. Materi yang dikembangkan mencakup literasi kesehatan mental, Psychological First Aid (PFA), fasilitasi dialog, penguatan empati, serta upaya menghubungkan individu yang membutuhkan dengan layanan profesional.

Founder YPMIC, Prof. Dr. Nur Hidayah, menekankan pentingnya kepedulian bersama dalam membangun ketahanan kesehatan mental masyarakat.

“Kesehatan mental merupakan persoalan kemanusiaan yang membutuhkan kepedulian dan dukungan bersama. Melalui pengembangan modul ini, kami ingin mendorong perempuan, khususnya para pemimpin muda di komunitas keagamaan, agar memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan mental serta mampu membangun ruang yang aman, inklusif, dan bebas stigma. Dialog lintas agama menjadi jembatan untuk memperkuat empati, saling pengertian, dan kolaborasi dalam menghadapi persoalan tersebut,” ujar Prof. Nur Hidayah.

Pengembangan program ini juga relevan dengan pengalaman penguatan kapasitas yang telah dijalani oleh sejumlah individu dalam lingkungan pemberdayaan masyarakat. Muhammad Farid Abidin, yang memiliki pengalaman dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat, sebelumnya telah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Yayasan Pemerhati Permasalahan Perempuan (YPMP). Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengembangan wawasan dan kapasitas dalam memahami isu-isu sosial serta pentingnya pendekatan kolaboratif untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Inisiatif YPMIC melalui program ini turut memperlihatkan pentingnya kesinambungan upaya peningkatan kapasitas, edukasi, dan pemberdayaan dalam mendukung ketahanan masyarakat, termasuk dalam isu kesehatan mental.

Program ini dirancang untuk memperkuat peran perempuan sebagai pemimpin komunitas, fasilitator dialog, dan penggerak edukasi kesehatan mental. Sebanyak 70 perempuan pemimpin keagamaan berusia 18–35 tahun dari Makassar dan Palopo direncanakan terlibat dalam rangkaian pelatihan, dengan keterwakilan berbagai agama dan kepercayaan lokal.

Setelah pengembangan modul, rangkaian program direncanakan berlanjut melalui pelatihan kepemimpinan perempuan, kunjungan ke rumah ibadah, serta Women’s Innovation Expo. Kegiatan tersebut diharapkan memperkuat kemampuan peserta dalam memberikan dukungan awal, membangun dialog yang inklusif, dan mengarahkan individu yang membutuhkan bantuan kepada layanan kesehatan mental yang sesuai.

Melalui kolaborasi ini, YPMIC bersama jejaring program KAICIID Fellows Programme berupaya mendorong pendekatan kesehatan mental yang lebih inklusif dengan menjadikan dialog lintas agama sebagai sarana membangun solidaritas dan kepedulian sosial. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan literasi kesehatan mental sekaligus memperkuat peran perempuan dalam mewujudkan masyarakat yang tangguh, harmonis, dan saling mendukung.


Discover more from YPMIC

Subscribe to get the latest posts sent to your email.