Site icon YPMIC

YPMIC Gelar Workshop Validasi Ahli untuk Perkuat Modul Kesehatan Mental Lintas Agama

Workshop validasi ahli pengembangan modul kesehatan mental lintas agama oleh YPMIC di Makassar pada 16 Oktober 2026.

YPMIC melaksanakan workshop validasi ahli untuk menyempurnakan modul Women Leading Mental Health Resilience through Interreligious Dialogue and Social Cohesion di Makassar, 16 Oktober 2026.

Makassar, Jumat, 16 Oktober 2026 — Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Cerdas (YPMIC) melaksanakan Workshop Expert Validator: Module Development dalam rangka pengembangan modul program “Women Leading Mental Health Resilience through Interreligious Dialogue and Social Cohesion” di Makassar. Kegiatan ini menjadi tahapan penting untuk memperkuat kualitas materi pembelajaran yang mengintegrasikan literasi kesehatan mental, kepemimpinan perempuan, dialog lintas agama, dan kohesi sosial.

Workshop validasi ahli ini merupakan bagian dari rangkaian kolaborasi YPMIC dengan KAICIID Fellows Programme, yang mendorong penguatan dialog antaragama dan kerja sama lintas komunitas untuk menjawab berbagai persoalan sosial. Melalui program ini, YPMIC berupaya menghadirkan pendekatan literasi kesehatan mental yang inklusif, kontekstual, serta relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Kegiatan validasi difokuskan pada peninjauan dan penyempurnaan materi modul agar memiliki landasan yang kuat, alur pembelajaran yang jelas, serta dapat diterapkan dalam kegiatan penguatan kapasitas perempuan pemimpin komunitas keagamaan. Masukan dari para validator ahli menjadi bagian penting dalam memastikan materi yang disusun tidak hanya memberikan pemahaman mengenai kesehatan mental, tetapi juga mendorong keterampilan praktis dalam membangun dukungan sosial di lingkungan masyarakat.

Modul ini dikembangkan dengan mempertimbangkan bahwa kesehatan mental merupakan isu kemanusiaan yang membutuhkan pemahaman, empati, dan keterlibatan berbagai pihak. Dalam kehidupan bermasyarakat, stigma, kesalahpahaman, dan keterbatasan pengetahuan mengenai kesehatan mental dapat menjadi hambatan bagi seseorang untuk mencari dukungan yang tepat. Karena itu, peningkatan literasi kesehatan mental perlu dilakukan melalui pendekatan edukatif yang dekat dengan realitas sosial dan budaya masyarakat.

Selain membahas pemahaman dasar mengenai kesehatan mental, pengembangan modul juga berkaitan dengan penguatan kemampuan memberikan dukungan awal, membangun komunikasi yang empatik, memfasilitasi dialog lintas agama, serta mengenali kebutuhan untuk menghubungkan individu dengan layanan profesional yang sesuai. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu para pemimpin komunitas menjadi penggerak lingkungan yang lebih peduli, aman, dan mendukung kesehatan mental.

Founder YPMIC, Prof. Dr. Nur Hidayah, menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun ketahanan kesehatan mental masyarakat. Menurutnya, penguatan kapasitas perempuan pemimpin komunitas keagamaan dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk memperluas edukasi, mengurangi stigma, dan membangun kepedulian terhadap persoalan kesehatan mental.

“Penguatan literasi kesehatan mental membutuhkan keterlibatan bersama dan pendekatan yang menghargai keberagaman. Perempuan pemimpin komunitas memiliki potensi besar untuk membangun ruang yang aman, menumbuhkan empati, serta mendorong masyarakat agar lebih terbuka dalam memahami persoalan kesehatan mental. Melalui dialog lintas agama, kita dapat memperkuat solidaritas dan membangun dukungan sosial yang lebih inklusif,” ujar Prof. Nur Hidayah.

Bagi YPMIC, proses validasi ahli bukan sekadar tahapan teknis dalam penyusunan bahan pembelajaran, tetapi juga upaya memastikan bahwa modul yang dikembangkan memiliki manfaat nyata bagi masyarakat. Materi yang berkualitas diharapkan dapat menjadi landasan bagi pelaksanaan pelatihan dan kegiatan penguatan kapasitas perempuan pemimpin komunitas keagamaan.

Melalui program “Women Leading Mental Health Resilience through Interreligious Dialogue and Social Cohesion”, YPMIC berharap dapat memperkuat peran perempuan sebagai penggerak edukasi kesehatan mental sekaligus jembatan dialog antaragama. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari komitmen YPMIC dalam mendorong pemberdayaan masyarakat, memperkuat kohesi sosial, dan membangun lingkungan yang lebih inklusif, harmonis, serta peduli terhadap kesehatan mental.

Kolaborasi dengan KAICIID Fellows Programme diharapkan dapat mendukung keberlanjutan upaya tersebut melalui pengembangan kapasitas, pertukaran pengetahuan, dan penguatan kerja sama lintas komunitas. Dengan demikian, modul yang dikembangkan tidak hanya menjadi bahan pembelajaran, tetapi juga dapat mendukung lahirnya praktik nyata dalam membangun ketahanan kesehatan mental dan perdamaian di tengah keberagaman masyarakat.

Exit mobile version