Konferensi internasional Ibn Battuta ketiga sukses digelar di Ballroom Hotel Santika Makassar pada tanggal 27-28 September 2024. Acara bergengsi yang mengusung tema dialog lintas budaya dan intelektualisme ini dihadiri oleh para cendekiawan, akademisi, dan pemikir dari berbagai penjuru dunia, baik secara onsite maupun online. Konferensi ini melanjutkan tradisi yang dimulai di Tangier dan Fez, Maroko, dengan tujuan mempererat hubungan antarperadaban melalui diskusi ilmiah yang mendalam.
Hari pertama dimulai dengan sambutan pembuka dari Prof. Nur Hidayah, Founder Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Cerdas (YPMIC), yang menyoroti pentingnya konferensi ini sebagai forum global untuk mempromosikan dialog antarbudaya. Dalam sambutannya, Prof. Nur menekankan bahwa Ibn Battuta, sebagai penjelajah dunia, telah menginspirasi kita untuk terus terlibat dalam kolaborasi lintas batas, guna menciptakan masa depan yang lebih damai dan inklusif.
Setelah sesi pembukaan, acara dilanjutkan dengan launching buku berjudul “Musaliar King: Decolonial Histography of Malabar’s Resistance” yang ditulis oleh salah satu keynote speaker, Prof. Abbas Panakkal. Buku ini menyoroti perlawanan Malabar melalui lensa historiografi dekolonial, sebuah kontribusi penting bagi kajian sejarah dekolonisasi. Dalam peluncuran bukunya, Prof. Abbas menjelaskan bahwa Malabar, sebagai salah satu wilayah yang terlibat dalam sejarah panjang perlawanan kolonial, memberikan pelajaran penting tentang keberanian dan ketahanan komunitas lokal dalam melawan kekuasaan asing.








Konferensi ini juga menghadirkan keynote speaker lainnya, seperti Prof. Dr. Aishath Muneeza, mantan Wakil Menteri Urusan Islam dan Keuangan di Maladewa, yang membahas peran kepemimpinan perempuan dalam dunia Islam modern. Prof. Dr. Elsadig Elfaqih, Sekretaris Jenderal Arab Thought Forum, Yordania, juga berbagi perspektifnya tentang dinamika pemikiran Arab kontemporer dan tantangan yang dihadapi dunia Arab dalam menjaga identitas budaya di tengah arus globalisasi. Kedua keynote speaker ini memberikan wawasan yang membuka cakrawala peserta mengenai tantangan dan peluang yang dihadapi dunia Islam saat ini.
Hari kedua konferensi tidak kalah menarik. Kegiatan dimulai dengan penampilan seni tari dari Sanggar Tari Rufaidah UIN Alauddin Makassar, yang menampilkan kekayaan budaya lokal Sulawesi Selatan. Tarian ini mencerminkan semangat kebersamaan dan harmoni yang diusung dalam konferensi ini, serta menjadi pengingat bahwa seni dan budaya adalah bagian integral dari dialog peradaban.
Setelah penampilan tari, keynote speaker Prof. Dr. Mustapha Abdul Hamid, mantan Menteri Informasi Ghana, mengambil panggung dan menyampaikan pemikirannya tentang kolaborasi internasional di era digital. Dalam pemaparannya, Prof. Mustapha menekankan pentingnya membangun jaringan global yang kuat untuk mengatasi tantangan modern, seperti perubahan iklim, ketidaksetaraan ekonomi, dan masalah sosial lainnya. Menurutnya, spirit Ibn Battuta sebagai penjelajah yang melintasi berbagai budaya sangat relevan di era globalisasi ini.
Selain diskusi intelektual yang kaya, konferensi ini juga memberikan pengalaman unik bagi para peserta internasional. Pada akhir acara, peserta diajak untuk mengikuti city tour keliling Kota Makassar, mengunjungi beberapa tempat bersejarah seperti Fort Rotterdam, salah satu benteng peninggalan kolonial yang menjadi simbol pertahanan lokal di masa lalu. Setelah itu, para peserta juga mengunjungi Pusat Oleh-oleh Khas Makassar, di mana mereka dapat merasakan langsung keramahan budaya lokal dan membawa pulang berbagai produk khas daerah.




Sebagai penutup yang berkesan, seluruh peserta menikmati makan siang di restoran tepi pantai di Galesong, yang menyuguhkan pemandangan indah serta hidangan laut khas Sulawesi. Suasana santai dan akrab ini memperkuat hubungan antar peserta dan memberikan momen refleksi setelah dua hari diskusi intens.
Konferensi Ibn Battuta 2024 diselenggarakan dalam format hybrid, menggabungkan kehadiran fisik peserta onsite dari puluhan institusi di Sulawesi, dengan partisipasi online dari berbagai institusi di seluruh dunia. Format ini memungkinkan konferensi menjangkau audiens global, sehingga lebih banyak pemikir dan cendekiawan dapat berpartisipasi dalam dialog lintas budaya yang diusung.
Untuk melihat secara lengkap keynote speaker lainnya, dapat mengakses ibic.ypmic.or.id.
Dengan berakhirnya Conference Ibn Battuta ketiga ini, Makassar sekali lagi menjadi pusat perhatian internasional sebagai tuan rumah dialog global yang mendalam, memperkuat posisinya sebagai kota yang tidak hanya kaya akan sejarah, tetapi juga sebagai ruang untuk kolaborasi dan inovasi masa depan. Konferensi ini tidak hanya berhasil menjembatani budaya dan peradaban, tetapi juga memupuk semangat kerjasama global yang lebih inklusif dan harmonis.”
Discover more from YPMIC
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
